Pejuang Sejati

Posted: May 25, 2010 in Uncategorized

Entah harus mulai dari huruf apa yang paling tepat agar saya bisa dengan jelas menyampaikan makna dari judul diatas. Bisa jadi persepsi anda wahai pembaca yang budiman tentang makna pejuang sejatiĀ  berbeda dengan saya. Bisa jadi pembaca sekalian kecewa karena ternyata orang aslinya yang didunia nyata tak sebanding dengan kata-kata “pejuang sejati” itu sendiri. Namun saya akan terus berjuang agar pribadi sang pejuang sejati di alam nyata benar-benar pas dengan sebutannya di dunia maya.

Pejuang sejati adalah dua kata sifat yang harapannya bisa menjadi salah satu karakter kepribadian yang melekat erat dalam diri saya. Sebab menurut saya pejuang sejati itu memiliki makna yang mulia. Kata yang pertama “pejuang” merupakan simbol dari seseorang yang melakukan sebuah perjuangan keras terus menerus tiada henti hingga kedua kakinya menginjak Jannah Ilahi. Kata kedua “sejati” yang disandingkan dengan kata “pejuang” dibelakangnya bertujuan agar perjuangan yang nantinya dilakukan bukan sembarangan perjuangan. Atau dengan kata lain, haruslah mengandung tujuan suci nan mulia.

Jadi seperti itulah makna Pejuang Sejati versi saya selaku lelaki yang menamakan dirinya didunia maya dengan sebutan Pejuang Sejati.

Nah kalau menurut anda kira-kira bagaimana ….?

sebenarnya alasan saya memakai frase “Pejuang Sejati” punya latar belakang yang cukup panjang dan mengesankan.

Ini berkaitan erat dengan kehidupan masa remaja saya yang sebagiannya penuh perjuangan dan penuh pengorbanan.

Di masa SD dulu tepatnya mulai kelas empat setelah pulang sekolah saya mendapatkan aktivitas tambahan yaitu mengaji di TPQ. Kegiatan tambahan ini rutin setiap hari kecuali hari Jum’at. Lokasinya pun jauh. Untungnya pihak TPQ mau menjemput saya dan teman-teman pakai mobil jadi kami tidak perlu lagi mencari angkot. Bisa dimaklumi kalau ini membuat saya mangkel karena di saat waktunya main bersama-sama dengan teman-teman saya harus mengaji ke TPQ yang tak jarang pulangnya maghrib. Selain itu dulu ketika hendak melanjutkan sekolah setelah lulus SD Ibu saya memberi dua pilihan. Mau sekolah di Madrasah Tsanawiyah dulu baru SMA atau SMP dulu setelah itu baru Aliyah. Saya pada waktu itu memilih yang pertama. Jadi saya melanjutkan sekolah ke Madrasah Tsanawiyah. Pada saat duduk dikelas satu kembali saya harus legowo menerima kenyataan bahwa saya harus masuk siang setiap hari gara-gara kelasnya tidak cukup sehingga harus bergantian dengan kakak kelas.

Memang itu semua sangatlah tidak menyenangkan bagi saya. Maklumlah untuk usia-usia seperti saya pada waktu itu yang masih doyan main justru harus belajar. Namun sekaranglah saya baru bisa mendapatkan manfaatnya. Teman-teman saya yang tidak ikut belajar ngaji sewaktu SD sekarang disaat menginjak usia dewasa sulit sekali membaca Al Qur’an dengan lancar apalagi dengan baik dan benar sesuai dengan tajwidnya. Sedangkan saya Alhamdulillah bisa. Di sekolah Madrasah Tsanawiyah saya memang harus masuk siang ketika kelas satu. Tapi di Sekolah itulah saya mendapatkan asupan ilmu agama lebih banyak daripada sekolah SMP. Ternyata sengaja Ibu memberikan pilihan demikian agar saya mantap ilmu agamanya saat masih muda. Jadi kalau nanti masuk sekolah sekuler saya tidak terbawa jadi sekuler.

Nah mungkin prediksi Ibu ini ada benarnya juga. Rencananya untuk saya ini membuat saya memiliki kontrol diri yang cukup efektif. Buktinya saya sampai saat ini tidak pernah pacaran, tidak pernah minum, kisruh dan kenakalan-kanakalan remaja lainnya. Dan justru ketika di SMA lah saya memulai memasuki dunia pembinaan diri yang sangat efektif. Waktunya rutin sepekan sekali dan biasanya dikenal dengan sebutan halaqah. Awal mula saya ikut mungkin bisa dibilang tidak sengaja. Ketika duduk di kelas satu SMA saya melihat ada brosur ditempel di tembok kelas. Dilihat dari judulnya membuat saya cukup tertarik untuk ikut. Katanya sih ada acara semacam training. Akhirnya saya ikut. Dan luar biasa pematerinya pada saat itu (Ust. Arief Almsyah). Beliau bisa memotivasi paserta untuk terus bersemangat. Beliau seolah-olah mampu menyihir peserta untuk menangis, tertawa, semangat, marah dan sebagainya. Dari situlah timbul keinginan kuat dari diriĀ  saya untuk terus istiqamah ikut acara-acara semacam itu. Katanya panitia mereka punya acara semacam itu yang jadwalnya pekanan. Singkat cerita sayapun akhirnya ikut Halaqah

Kalau dipikir-pikir saya merasa heran kenapa saya ngoyo-ngoyo dengan penuh semangat dan antusias ikut acara seperti itu. Padahal untuk hadir saya harus naik sepeda atau naik bus di malam hari, di malam minggu lagi yang mana biasanya waktu kayak gini dipakai buat senang-senang atau refresing kebanyakan anak muda pada umumya. Tapi justru saya melewatinya untuk ikut halaqah. Anehnya saya enjoy-enjoy saja.

Ya begitulah “catatan putih” kehidupan masa muda saya. Mungkin anda akan bertanya catatan hitamnya bagaimana ?

jawabannya tunggu saja tanggal mainnya